Tanggapan terhadap larangan bisnis gestun oleh OJK

Beberapa waktu terakhir, pelaku dunia industri kartu kredit dihebohkan dengan larangan bisnis gesek tunai oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Hal ini jelas sangat meresahkan bagi para pelaku bisnis gesek tunai, maupun pengguna kartu kredit. Nah, dari berita yang ada, saya berusaha menganalisa permasalahannya. Berikut adalah tanggapan saya tentang larangan bisnis gestun oleh OJK.

Ada beberapa poin yang perlu saya luruskan terkait larangan bisnis gestun oleh OJK. Yang pertama adalah komparasi data yang tidak pas yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Alasan mereka melarang bisnis gesek tunai karena bunga yang dikenakan jauh lebih besar. Sayangnya, OJK membandingkan bunga kartu kredit, yang notabene adalah kredit non agunan, dengan bunga kredit beargunan, hal ini jelas berbeda. Ibaratnya Anda membandingkan buah durian dan pisang, mana yang lebih enak? Jelas berbeda. Kartu kredit tentu bunganya jauh lebih besar karena tidak ada barang yang dijaminkan. Sedangkan kredit agunan bunganya jauh lebih kecil itu wajar karena ada barang yang dijaminkan.

Bisnis Gestun, Bisnis Gesek Tunai, OJK, Otoritas Jasa Keuangan

Larangan bisnis gestun oleh OJK tidak menggunakan komparasi yang tepat

Poin selanjutnya adalah pelarangan bisnis gesek tunai ini menggunakan standar ganda. Standar ganda yang saya maksud adalah OJK melarang bisnis gestun, akan tetapi OJK tidak melarang tarik tunai (praktek gestun ala bank). Padahal keduanya sama saja, coba Anda lihat billing statement Anda, pasti disana ada poin tentang biaya tarik tunai. Jika OJK mau fair, jika gestun dilarang, maka fasilitas tarik tunai juga harus dilarang. Apalagi, banyak sekali kejadian jika biaya tarik tunai jauh lebih mahal dibandingkan biaya gestun (Tarik tunai bisa dikenakan 4-6%, sedangkan gestun hanya 2,5-3%).

Namun, ada satu poin yang sepertinya saya dan OJK saling sepakat dari berita larangan bisnis gestun oleh OJK, yaitu bertujuan untuk mengurangi kredit macet atau NPL (Non Performing Loan). Saya juga tidak menginginkan adanya kredit macet, tapi saya melakukannya dengan cara yang berbeda. Menurut saya, pelarangan bisnis gesek tunai tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah. Apalagi bisnis gestun dan bisnis perbankan itu ibarat simbiosis mutualisme, kedua pihak sama-sama diuntungkan, tidak ada pihak yang dirugikan. Nah, disini saya mencoba mengatasi masalah kredit macet itu dengan pendekatan yang berbeda, yaitu melalui edukasi.

Masalah kredit macet itu bukan karena disebabkan oleh adanya bisnis gestun atau tidak. Tapi masalah sebenarnya adalah tidak adanya edukasi yang tepat tentang penggunaan kartu kredit bagi para penggunanya ataupun pengusaha gesek tunai. Kita selama ini hanya diajarkan cara menggunakan kartu kredit hanya untuk kebutuhan konsumtif, dengan adanya promo-promo (diskon, buy one get one, poin reward, cashback, dll). Seseorang yang tidak mendapat edukasi yang tepat akan mudah terjebak dalam lingkaran hutang kartu kredit, yang ujung-ujungnya pasti akan jadi kredit macet.

Nah, itulah sebabnya kenapa saya mengadakan seminar dan pelatihan kelas 1 hari tentang kartu kredit ataupun bisnis gestun. Saya ingin mengedukasi masyarakat tentang potensi kartu kredit, cara menggunakannya yang tepat dan produktif. Harapan saya, dengan memberikan edukasi ini, masyarakat bisa sadar untuk tidak hanya menggunakan kartu kredit demi kepentingan belanja, belanja, dan belanja saja. Atau apalagi menggunakan kartu kredit untuk menutup hutang, itu jelas salah besar. Jika masyarakat sudah paham, maka dengan sendirinya, kredit macet akan bisa diatasi.

Nah, itu tadi tanggapan saya terhadap larangan bisnis gestun oleh OJK. Semoga apa yang saya informasikan ini bermanfaat untuk Anda semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *