Aniaya nasabah, debt collector kartu kredit dilaporkan polisi

Kekerasan terhadap nasabah kartu kredit kembali terjadi. Lagi-lagi, pelakunya adalah seorang debt collector kartu kredit. Hal ini, mau tak mau memaksa kita mengenang kasus Irzen Octa yang meninggal karena hal yang sama. Tapi untungnya, Agustinus (nasabah korban yang menjadi penganiayaan) tidak sampai mengalami hal yang serupa dengan Irzen Octa, namun ia mesti menderita beberapa luka serius. Tak terima diperlakukan tak manusiawi, korban pun melaporkan si pelaku ke polisi. Kenapa kasus seperti ini terjadi lagi?

Kasus penganiayaan

debt collector kartu kredit

terhadap Agustinus bermula dari keheranan korban yang menerima tagihan kartu kredit atas nama kakaknya. Padahal setau korban, kakaknya telah melunasi hutang-hutangnya. Dia mengakui, kalau dulu kakaknya sempat mengalami masalah hutang terkait kartu kredit, namun hal tersebut sudah diselesaikan jauh-jauh hari yang lalu.

“Dulu kakak saya dijanjikan bisa lunas tagihan kartu kreditnya kalau bayar Rp 8 juta. Tetapi kemudian, awal bulan kemarin ada tagihan lagi sebesar Rp 5 juta lagi. Mereka menagih via telepon,” terang Agustinus.

penagih hutang, tunggakan kartu kredit, hutang kartu kredit

Salah satu debt collector kartu kredit dilaporkan kembali membuat ulah dengan menganiaya nasabahnya.

Hendak menyelesaikan masalah, maka Agustinus memutuskan untuk datang ke bank yang bersangkutan, tempat dimana kakaknya memiliki tunggakan. Ia enggan untuk membayar tagihan tersebut, dan hendak meminta surat bukti pelunasan yang dulu telah dilakukan kakaknya. Meskipun, saat menagih via telepon, pihak bank berjanji memberi keringanan pembayaran dari yang semual Rp. 5 juta, hanya perlu dibayar Rp. 1,9 juta, maka hutang dianggap lunas.

Datang ke bank, Agustinus pun menyampaikan maksudnya hendak menemui salah satu petugas bank. Dan akhirnya si korban ini ditemui oleh petugas bank berinisial Rik. Saat mengutarakan maksud kedatangannya, sempat terjadi percekcokan. Hal ini dikarenakan Agustinus hendak meminta surat pelunasan.

Merasa urusannya sudah selesai, Agustinus pun bergegas hendak pulang. Di saat itulah penganiayaan itu terjadi. Saat dia hendak mengendarai sepeda motornya, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya. Kontan saja ia menoleh, tapi ternyata justru bogem mentah yang ia dapatkan di wajahnya. Pelaku yang berinisial Pon, yang kemudian diketahui sebagai pemilik agency debt collector kartu kredit yang bekerjasama dengan bank tersebut dengan leluasa melakukan perbuatan tersebut, meskipun ada Rik disana.

“Saat itu ada Rik. Tetapi dia hanya melihat saja dan tidak ada upaya melerai. Saya lalu diseret mereka naik lagi ke atas ke lantai 3,” ungkapnya.

Untungnya saat itu ada petugas keamanan bank yang melihat kejadian itu, ia pun bisa lolos dari situasi yang bisa saja menjadi lebih parah. Karena merasa dianiaya, Agustinus pun langsung pergi menuju Polsek Tamansari dan melaporkan tindak penganiayaan yang dialaminya di sebuah bank di Jl Lada, Pinangsia, Jakarta Barat. Setelah melapor tersebut, dia bersama petugas Polsek tamansari kembali mendatangi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Ia pun lalu dipertemukan dengan Rik, si petugas bank, dan Pon, si debt collector kartu kredit yang menjadi pelaku penganiayaan. Saat itu, pihak bank menjanjikan sesuatu kepada korban.

“Saat itu mereka menjanjikan akan memberikan pengobatan luka yang saya derita dengan syarat saya tidak boleh melapor ke polisi,” ujarnya.

Agustinus masih belum mengiyakan janji bank tersebut, dan ia dibawa ke RS Husada Insani untuk mendapat pengobatan. Namun, hal itu justru membuat dia merasa dipermalukan, karena setelah dirawat, tiba-tiba dia sudah mendapati ada surat pencabutan pelaporan yang sudah dia tanda tangani. Padahal ia merasa tidak melakukannya. Apalagi, pihak bank tidak menepati janjinya untuk membiayai perawatan Agustinus.

Karena tidak senang dengan perlakuan dari bank tersebut yang kurang ajar, maka Agustinus pun kembali membuat laporan. Kali ini dia melaporkan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh debt collector kartu kredit ke Polres Jakarta Barat. Dari surat laporan resmi bernomor TBL/458/IV/2014/PMJ/Res Jakbar, 5 April 2014, korban melaporkan pihak bank dengan menggunakas pasal 251 KUHP, terkait penganiayaan.

Dengan adanya kasus penganiayaan debt collector kartu kredit terhadap nasabah seperti ini, mesti Bank Indonesia harus bertindak tegas. Apalagi, cara-cara kasar debt collector saat menagih hutang masih banyak dikeluhkan masyarakat. BI harus berani memberi sanksi terhadap agency maupun pihak bank yang menggunakan jasa mereka. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan menimpa kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *